Muratara, Gerbangsumsel.com,- Pencapaian produksi perkebunan kelapa sawit di Sei Rupit Estate (Plasma) dinilai terus menunjukkan angka yang cukup signifikan. Namun, di balik capaian tersebut, muncul sorotan tajam dari masyarakat desa penyangga yang merasa belum menikmati hasil secara adil.
Sejumlah warga menilai, hasil produksi plasma yang seharusnya menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat sekitar justru lebih banyak dinikmati oleh pihak-pihak di luar desa penyangga. Kondisi ini memunculkan kekecewaan dan tanda tanya besar terkait tata kelola kemitraan plasma yang berjalan selama ini.
“Produksi disebut berhasil, tapi kami sebagai masyarakat desa penyangga justru tidak merasakan dampaknya secara langsung,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat mempertanyakan transparansi pengelolaan hasil plasma, mulai dari pembagian keuntungan, kejelasan data penerima manfaat, hingga peran koperasi yang menjadi penghubung antara perusahaan dan petani plasma. Mereka menilai, jika pengelolaan dilakukan secara adil dan terbuka, maka desa penyangga seharusnya menjadi pihak utama yang merasakan manfaat ekonomi.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk audit pengelolaan plasma Sei Rupit Estate. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan tujuan awal program plasma—yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan—benar-benar terwujud.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola Sei Rupit Estate terkait keluhan masyarakat desa penyangga tersebut. (AR)
_












